MELIHAT DARI KETINGGIAN
Oleh Budiyanto, M.Pd.
(Kepala SMA Islam Dian Didaktika )
“Orang-orang besar tidak dilahirkan. Mereka ditempa, diukir, dan dipersiapkan oleh pendidikan yang baik. Salah satunya adalah orangtua mereka yang senantiasa menyemangati dengan cinta. Menggerakkan jiwa mereka untuk melakukan kerja besar yang bermakna, bukan menyibukan diri dengan kekurangan mereka dan membandingkan dengan keberpihakkan”.
Orang bijak sering mengatakan semakin tinggi tempat kita memandang akan semakin luas pandangan kita. Makna yang terkandung dalam ungkapan itu sangat jelas yaitu orang yang berpandangan luas akan melihat sesuatu pada kerangka yang luas pula. Orientasi pemikiran orang seperti ini pastilah melihat jauh kedepan, bukan berpikir jangka pendek atau berpikir hanya keuntungan sesaat. Orang-orang yang berpikir jauh ke depan adalah orang-orang pendakian yaitu orang-orang yang berani dengan resiko besar demi tujuan yang baik untuk kepentingan orang banyak, dan biasanya orang-orang yang demikian itu adalah orang-orang yang termarjinalkan. Sebaliknya orang-orang yang menghamba dan berpikir keuntungan sesaat adalah orang-orang yang biasanya hanya ingin aman untuk dirinya, tetapi justru para pecundang seperti inilah yang mendapat tempat terbaik. Andaikata para pemimpin dan pahlawan kita waktu itu berpikirnya seperti para pecundang, mungkin sampai detik ini kita masih dalam rong-rongan penjajahan. Para pemimpin masa lalu adalah orang-orang pendakian, mereka rela dipenjara demi kebangkitan dan kepentingan rakyat. Untuk merebut kemerdekaan, para pendaki rela berkorban jiwa, raga dan harta. Para pendaki tidak pernah mengkalkulasi keuntungan sesaat. Contoh para pendaki yang selalu termotivasi untuk melihat sesuatu dari ketinggian seperti Jendral Sudirman. Jendral Sudirman adalah sosok manusia yang lemah secara fisik, beliau ketika berjuang dalam kondisi yang kurus, dengan paru-paru yang bocor. Tetapi, orang-orang perkasa pada zamannya, tunduk dan hormat kepadanya. Keperkasaan jasmani memang tidak ada pada diri Jendral Sudirman, kenyataanya pada diri Jendral Sudirman telah terhimpun kekuatan ruhiyah, kekuatan jiwa, semangat jihat yang menyala-nyala, keyakinan yang sangat kukuh dan cita-cita yang sangat besar. Pendek kata Jendral Sudirman adalah sosok manusia pendaki yang berkarakter sangat kuat bahkan berwibawa. Kewibawaannya tidak terlepas dari sikap yang tulus, ikhlas dan berjuang untuk kepentingan orang banyak, untuk kepentingan bangsa dan negara. Contoh lain, Gajah Mada adalah pemimpin yang berasal dari rakyat jelata, ketika perang saudara berkecambuk,Gajah Mada dengan karakter yang kuat, dengan kekuatan cinta terhadap negara, Gajah Mada tidak terpengaruh sedikit pun terhadap propaganda dari orang-orang yang hanya mencari keuntungan pribadi. Sayangnya orang pendakian yang berkarekter kuat, saat ini sudah jarang, bahkan orang-orang pendakian seperti tersebut di atas saat ini dianggap duri yang akan mengganggu proses kekuasaan.
Hidup adalah pilihan, apakah hidup kita hanya ingin menjadi orang-orang yang berkarakter lemah menerima apa adanya? Hidup seperti itu pun terbuka ruang yang seluas-luasnya, atau apakah kita ingin hidup menjadi manusia pendaki yang berkarakter kuat? Itu pun sangat terbuka peluang berjuang yang seluas-luasnya. Pilihan hidup tentunya memiliki konsekuensi dan resiko. Jendral Sudirman dan Gajah Mada adalah orang-orang besar yang berpikir besar artinya mereka memilih hidup untuk menjadi seorang pendaki yang berkarakter kuat walaupun resikonya sangat berbahaya. Tugas kita sebagai pendidik, sebagai orangtua dan sebagai masyarakat sudah saaatnya merubah paradigma yang membuat karakter anak-anak kita lemah, menjadikan karakter anak-anak kita yang tangguh.
Karakter yang kuat dan sikap positif, generasi sekarang ini masih belum sepenuhnya tertanam dalam diri anak-anak kita. Kita cenderung mendidik anak-anak kita dengan ilmu pengetahuan, padahal pengetahuan hampir-hampir tidak memberikan pengaruh pada perilaku jika pengetahuan itu tidak sejalan dengan sikap kita. Jika pengetahuan tidak diyakini dan dihayati dengan sungguh-sungguh. Seorang dokter spesialis penyakit dalam pun dapat meninggal karena penyakit dalam yang disebabkan terlalu banyak merokok. Tak ada yang bisa kita lakukan dengan kecerdasan kita kalau jiwa tempat berkembangnya anak-anak kita amat rapuh. Bukan cemerlangnya otak yang menjadikan orang-orang besar memberi warna pada sejarah. Tetapi mereka orang-orang yang berpikir cepat, tepat dan benar dengan karakter yang kuat yang menjadikan sebagian negari lebih disegani dari pada negeri-negeri lain. Pada bangsa-bangsa yang disegani itu boleh jadi otak anak-anak mereka itu tak secermelang otak anak-anak kita. (Baca : Positive Parenting).
Untuk membangun jiwa tempat anak-anak berkembang dengan karakter yang kuat sebagai orangtua perlu mencari tempat yang tepat. Dimanakah tempat yang tepat bagi berkembangnya jiwa anak-anak kita? Sekolah adalah tempat berkembangnya jiwa dan tempat terbangunnya karakter anak-anak kita, orangtua yang bijak akan memberikan anak-anaknya membangun karakter di tempat yang baik, yaitu sekolah-sekolah yang memberikan ruang berkembangnya karakter.
Sekolah-sekolah yang berorientasi pada pengembangan karakter anak pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
Sekolah yang telah melaksanakan proses belajar dengan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh dengan gerak, karena gerak berdasarkan hasil penelitian akan membantu perkembangan saraf-saraf otak, atau sekolah yang melaksanakan proses belajar dengan menggunakan sistem moving class.
Sekolah yang telah membuat peta perkembangan siswa setiap saat, perkembangan siswa diukur dari hasil proses belajar dan perilaku hidup peserta didik.
Sekolah yang mampu menciptakan kodisi belajar yang inovatif, kreatif sehingga menjadi lingkungan belajar yang kondusif dan munculnya motivasi instrinsik peserta didik.
Sekolah yang memiliki fasilitas yang terstruktur, sehingga seluruh fasilitas mampu mengoptimalkan perkembangan anak.
Sekolah yang telah meracik kurikulum dengan baik sehingga hasil racikan itu mampu membuat gairah belajar anak.
Sekolah yang telah melatih peserta didik dalam lingkungan tutor teman sebaya (TTS), hasil yang diharapkan adalah munculnya siswa bermasyarakat, munculnya organisasi kecil, munculnya kebersamaan, munculnya sikap tolong menolong dan yang terpenting dengan strategi belajar tutor teman sebaya ini terwujudnya masyarakat sekolah yang harmoni.
Sekolah memberikan pendidikan dengan model pendidikan yang menyesuaikan zaman peserta didik dan bukan sesuai dengan zaman sang guru pada saat itu.
Sekolah dapat mengerti dan memahami perkembangan setiap individu-individu dengan bakat dan minatnya sehingga terbangun keinginan anak untuk maju dan percaya diri.
Itulah beberapa cirri-ciri sekolah yang berorientasi pada pembangunan karakter anak. Setiap anak, sejauh lahir dalam keadaan mental yang normal, adalah genius-genius besar yang sudah dibekali Allah dengan percaya diri tinggi, semangat besar, antusias, dan senantiasa belajar. Untuk itu tugas kita sebagai guru, orangtu dan masyarakat adalah membina dan mengarahkan perkembangan anak-anak kita. Membangun karakter anak, tidak lepas dari membangkitkan semangat anak, mengajarkan tentang hidup kepada anak-anak sejak dini, membangun rasa percaya diri anak, dan mengajarkan kepada anak tentang hidup berkorban dan berani mengambil resiko dengan sikap mental yang bertanggung jawab, serta generasi yang berpikir analitis, bekerja sistematis dan terbiasa merencanakan sesuatu karya dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian bahwa ciri-ciri anak yang mempunyai karkater kuat adalah anak yang memiliki kejujuran, memiliki empati terhadap orang lain dan selalu berpikir untuk kepentingan orang banyak, memiliki tanggung jawab, cerdas, disiplin, berani mengambil resiko dan cepat mengambil keputusan. Semoga kita mendapat petunjuk dalam memilih tempat membangun jiwa anak-anak kita, dan diberi kemudahan oleh Allah dalam mendidik anak. Amin..,