Depok - Indonesia,
Galeri
Artikel Pendidikan
Berita
Buletin
Kegiatan KB-TK-SD
Kegiatan SMP
Kegiatan SMA
Pendaftaran
Pendaftaran KB
Pendaftaran TK
Pendaftaran SD
Pendaftaran SMP
Pendaftaran SMA
Galeri Photo





Pendidikan, Etika dan Tatanan Kehidupan
Oleh Budiyanto, M.Pd
(Kepala SMA Islam Dian Didaktika Cinere)
”Makna sejati dari keagamaan bukan hanya melulu soal moralitas, tetapi moralitas yang tersentuh oleh emosi manusia, manusia adalah mahkluk spiritual yang memiliki emosi, bukan mahkluk emosional yang memiliki spiritual. Oleh karena itu kerangka emosional semestinya dibangun di atas kerangka dasar yang bersifat spiritual.” (Matthew Arnold )
Logika kita dan akal sehat kita, akan mengatakan pendidikan yang tinggi dan etika yang baik akan mempengaruhi tatanan kehidupan manusia, tetapi karena manusia dibesarkan dari lingkungan yang sangat heterogen bisa jadi logika itu menjadi tidak benar dan mungkin keliru sama sekali. Kisah klasik” Dr Jekyl and Mr. Hyde” karya Louis Stevenson yang bercerita tentang seorang dokter penolong yang juga pembunuh, adalah bukti dari tidak adanya jaminan bahwa pendidikan tinggi dan etika yang baik itu, mempengaruhi tatanan kehidupan manusia.Di siang hari, Dr Jekyl sebagai seorang dokter yang sopan, santun dan beretika sangat baik yang selalu menyelamatkan kehidupan manusia, di malam hati ia sebagai seorang dokter pencabut nyawa. Ia membunuh pasiennya dengan opium. Mengapa Dr Jekyl melakukan hal ini ? Karena rasa dendam, ketika seorang ibunda tercintanya meninggal akibat sakit kangker. Ia beranggapan bahwa Tuhan semaunya saja mencabut nyawa seseorang tanpa memiliki perasaan sedikit pun. Melihat kenyataan tersebut, menurut hipotesa penulis adalah, bahwa pendidikan tinggi dan etika yang baik belum tentu akan berpengaruh terhadap tatanan kehidupan yang positif apabila tidak disentuh dengan emosi yang cerdas dan spiritual yang tinggi. Tatanan kehidupan yang berkembang di Indonesia dapat ditinjau dengan beberapa hal. Disadari atau tidak bangsa Indonesia telah mengalami lima zaman berkaitan dengan tatanan perilaku kehidupan, baik yang menyentuh sector pendidikan maupun etika. Pengaruh tatanan kehidupan tersebut. Pertama, Zaman Kerajaan (feudal), perilaku kehidupan kala itu manusia sebagai hamba sahaya, titah seorang raja adalah merupakan peraturan, pendidikan hanya untuk kalangan tertentu, etika masyarakat kala itu sangat baik sebagaimana etika yang diterapkan di lingkunangan kerajaan, walaupun berkembang etika yang tidak berdasarkan nurani. Etika dan pendidikan sangat mempengaruhi tatanan kehidupan pada zaman ini, sehingga tatanan kehidupan terbentuklah kasta-kasta. Kedua, Zaman Penjajahan (Belanda dan Jepang), perilaku kehidupan bangsa Indonesia kala itu semakin terpuruk, manusia hanya sebatas seseorang yang hidup sebagai buruh, pendidikan terseleksi hanya untuk orang tertentu, pribadi dan etika tidak berkembang berdasarkan nurani akan tetapi berkembang berdasarkan rasa takut. Ketiga, Zaman Kemerdekaan, zaman ini merupakan jendela Istiqlal (kemerdekaan) bangsa Indonesia, anak bangsa mempunyai hak untuk menghirup udara kemerdekaan, pendidikan mulai berkembang untuk semua kalangan, etika masih tertata baik sebagaimana zaman kerajaan (feudal). Keempat, Zaman imbasnya revolusi industri, pendidikan berkembang pesat dan tatanan kehidupan manusia sudah semakin maju, etika semakin bergeser negatif, egoisme semakin tinggi terbukti pada zaman ini semua manusia ingin mendapatkan sesuatu untuk kepentingan sendiri, manusia ingin aman dari segala sector kehidupan baik pekerjaan, kesehatan, masa depan dan lain sebagainya. Kelima, Zaman Teknologi dan Informasi, pada zaman ini sering disebut zaman global, zaman ini dapat juga dikatakan zaman kewaspadaan dan kebijaksanaan karena perilaku pada generasi ini telah berkembang seiring dengan pesatnya tehnologi dan informasi. Pada generasi ini manusia dituntut untuk hidup kreatif, inovatif, produktif, kritis dan memiliki kemapuan untuk mengubah tantangan menjadi peluang. Pendidikan tidak lagi satu-satunya anggapan sebagai kunci keberhasilan hidup. Keberhasilan hidup manusia ditentukan oleh kemampuan manusia itu sendiri. Etika menjadi tidak popular, etika berjalan tergantung pada gaya hidup, bukan gaya hidup yang tergantung pada etika. Pada era ini manusia akan terseleksi sebagai peserta dalam mengisi panggung kehidupan. Pada generasi kelima ini manusia harus berpikir cepat, benar dan tepat, analisis tajam, dan kritis tetapi nilai-nilai etika, akhlak dan agama sudah mulai luntur. Generasi kelima merupakan generasi tuntutan zaman, kalau dikaji secara cermat dalam hipotesa penulis pada generasi kelima ini, sesungguhnya pendidikan dan etika sangat kecil pengaruhnya dalam tatanan kehidupan. Justru terbalik tatanan kehidupan mempengaruhi pendidikan dan etika. Inilah yang penulis katakan zaman kewaspadaan dan kebijaksanaan. Dimanakah kesalahannya? Apakah kesalahan pada pola pendidikannya? Atau kesalahan pada etikanya ? Identifikasi masalah ini menjadi PR kita semua. Seharusnya walaupun zaman bergerak cepat bahkan lari sekalipun yang namanya pendidikan dan etika serta agama harus mempengaruhi terhadap tatanan kehidupan manusia, mempengaruhi terhadap gaya hidup manusia. Pandangan manusia yang beragam terkadang menyamarkan kebenaran. Gambar dan foto yang tidak senonoh menurut kita bahkan menurut kajian agama dibilangnya seni, karena belum ada undang-undangnya maka etika, adat istiadat yang baik santun dan berbudaya itu, tak berdaya bahkan dianggap salah, sementara pornografi adalah seni yang memiliki nilai estetika yang sangat tinggi. Inilah yang terjadi pada zaman generasi kelima sekarang ini. Membangun etika, budaya dan nilai-nilai luhur adat istiadat bangsa ini bukan hanya tugas guru dan para ulama, tetapi tugas kita semua. Belum lama di salah satu sekolah SMA di Jakarta dikabarkan ada seorang murid yang tega mengunci seorang guru agamanya di kamar mandi. Pertanyaannya adalah begitu sudah rusakkah akhlak generasi bangsa ini ? Apakah wibawa guru sudah tidak ada lagi sekarang ini ? Apakah teladan guru, orangtua dan masyarakat sudah lenyap tertutup oleh tehnologi dan informasi canggih ini ? Kalau kita masih ingat Kan’an anak nabi Nuh yang ingkar kepada Allah dan berani kepada ayahnya itu apakah Nabi Nuh tidak memberikan teladan ? Apakah Nabi Muhammad yang dilempari kotoran onta ketika menyebarkan agama Islam itu juga tidak memberikan teladan ? para spiritual itu telah memberikan teladan yang sangat baik. Hanya karena egoisme, gengsi, mementingkan kepentingan pribadi demi keuntungan sesaat mereka rela menjual nilai-nilai kebenaran. Solusi terbaik dalam membina generasi ini adalah dengan memberikan kesadaran tentang arti pentingnya pendidikan, memberikan teladan dengan etika yang baik, memberikan pelatihan tentang emosi, dan tentang spiritual. Semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah SWT dalam mendidik generasi kelima ini. Amin.


Artikel Pendidikan

MELIHAT DARI KETINGGIAN
Oleh Budiyanto, M.Pd.
(Kepala SMA Islam Dian Didaktika )

Pendidikan, Etika dan Tatanan Kehidupan
Oleh Budiyanto, M.Pd
(Kepala SMA Islam Dian Didaktika Cinere)
LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Oleh Drs. Budiyanto, M.Pd.
Pak Mendiknas, Siapa yang Peduli Proses?
Belajar Membaca, Menulis, Menghitung
Mobilitas HorisontaL bagi Guru Bermutu
Memenjarakan Anak dengan Kebebasan

diandidaktika.sch.id
Tentang Kami | Yayasan | Informasi | Lowongan | Links
Copyright © 2005 Dian Didaktika
Creatived by Dian Didaktika