Media Indonesia, Sabtu, 27 November 2004. ANAK-anak TK itu belajar membaca, menulis, menghitung. Itulah pelajaran pertama yang wajib diberikan guru kepada anak-anak TK (taman kanak-kanak). Selebihnya adalah bermain. Bermain menjadi penting bagi anak-anak itu supaya mereka belajar di dalam keadaan yang menyenangkan.
Keadaan yang menyenangkan di waktu belajar dapat mendorong anak-anak TK untuk mampu mengekspresikan apa-apa yang ada di dalam hati dan pikiran mereka. Pelajaran membaca, menulis, dan menghitung tidak menjadi beban bagi anak-anak TK karena suasana belajar yang menyenangkan itu. Begitulah penjelasan seorang guru TK. Bu guru TK itu melanjutkan bahwa suasana bermain itu perlu tampak pada waktu memberikan pelajaran kepada anak-anak itu cara duduk yang benar, cara menggosok gigi yang benar, cara memegang pensil, cara makan yang benar, cara minum, cara membuang hajat di dalam WC, cara berkata-kata yang benar. Bahkan di dalam pendidikan Islam, anak-anak berdoa ketika hujan datang.Di samping itu menyanyi dan menari setiap hari perlu dilakukan untuk semakin membebaskan anak-anak itu dari beban yang dibawa dari rumah. Dari sini anak-anak itu memperoleh kesan bahwa bersekolah itu sungguh menyenangkan dan ngangeni (merindukan).
Hanya saja dewasa ini suasana di TK memprihatinkan karena sifat bermain dari pembelajaran anak-anak TK itu berubah menjadi serius. Begitu seriusnya sampai-sampai anak-anak TK itu ketika naik ke kelas 1 (satu) SD menjadi sombong. Kenapa? Mereka menjadi sombong karena pelajaran di kelas satu SD (sekolah dasar) itu sudah mereka lahap di TK. Inilah yang membuat Bu Teguh, seorang guru kelas 1 SD, prihatin. Dari sini kemudian terjadi pengelompokan. Ada 'TK merambat' yang standar dan 'TK melompat' yang berat. Bu Teguh mengharapkan ada koordinasi antara 'TK melompat' dan sekolah dasar. Jika tidak ada jalinan mata pelajaran antara keduanya, bisa-bisa terjadi 'gegar pelajaran' yang berakibat mata pelajaran SD goncang semua.
Lain halnya dengan sekolah mahal. Di sekolah mahal itu, mata pelajaran dari TK sampai SMA sudah dikoordinasikan. Nah, ngobrol tentang sekolah mahal, pakar pendidik Pak Arief Rachman dari Lab School, Rawamangun, Jakarta Timur, menyatakan siapa pun yang menginginkan sekolah berkualitas, sekolah itu harus mahal. Hal ini tidak bisa ditawar-tawar. Tentu Pak Arief atau siapa pun yang namanya guru, tak memerlukan tanda jasa. Yang dibutuhkan guru adalah penghasilan yang cukup untuk menyejahterakan keluarganya.
Bagaimana jika gaji guru di Tanah Air tetap terseok-seok sementara Malaysia dan Brunei Darussalam melambai-lambaikan tangan sambil menyemprotkan parfum kepada jago-jago pendidik Indonesia supaya pindah saja ke kedua negeri subur makmur itu dengan gaji dan fasilitas setinggi langit? Boleh saja seandainya Pak Arief yang menyayangi murid-muridnya seperti anak-anaknya sendiri itu, atau guru-guru lain, berbondong-bondong ke negeri-negeri jiran itu, untuk mencari penghidupan yang layak. Hal itu sudah terjadi pada sementara dosen di perguruan tinggi kita.
Nah, obrolan tentang pendidikan di Metro TV bersama Mendiknas Bambang Soedibyo, mantan Mendiknas Malik Fajar, Guru Besar Wayan Sadina (?) dari Universitas Negeri Malang, Jawa Timur, dan pakar pendidikan Arief Rachman, tampak ideal dan mengatasi berbagai persoalan. Namun agaknya soal 20 persen anggaran pendidikan nasional kelihatannya masih (sangat) berat untuk direalisasikan. Jangan-jangan butuh waktu satu generasi untuk bisa menggaet dana sebesar itu.
Lalu tentang masa pakai buku pelajaran selama 5 tahun, mantan Mendiknas Daoed Joesoef menyatakan bahwa jangan sampai terjadi pendidikan dipermainkan. Pak Daoed melanjutkan bahwa keputusan pemerintah itu tidak berdasar kesimpulan dari kajian masak para pakar pendidikan. Bahkan Pak Daoed menganggap keputusan itu untuk memperoleh popularitas sesaat. Sementara itu, mantan Mendiknas Malik Fajar berbicara tentang buku pelajaran itu, menyatakan bahwa jangan sampai orientasinya bisnis melulu. Harus punya rasa sosial bahkan rasa spiritual. Sempat saya tanyakan kepada sejumlah guru SD dan SMP, mereka menjawab bahwa sampai sejauh ini, ketentuan masa berlaku buku pelajaran 5 tahun itu belum dilaksanakan karena masih banyak syarat yang perlu dipecahkan. Banyak orang tua yang menyambut gembira keputusan pemerintah perihal buku 5 tahun itu karena bisa berhemat namun banyak pula yang khawatir karena arus kemajuan ilmu pengetahuan untuk melakukan perubahan sosial setiap saat, bukan makin derasnya. Dan hal itu butuh buku-buku baru.
Persoalan pendidikan adalah persoalan mati-hidup sebuah bangsa. Siapa pun bangsa itu yang mengesampingkan pendidikan, bangsa itu akan bangkrut. Sedangkan bangsa yang mengutamakan pendidikan, bangsa itu akan berjaya. Bangsa-bangsa besar dunia, semakin berjaya semakin terus mengembangkan kepiawaiannya dalam pendidikan. Bangsa Indonesia baru merdeka 50 tahun sehingga belum paham soal pentingnya pendidikan. Banyak pemuda kita yang cerdas-cerdas yang terpinggirkan sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikannya padahal ada yang meramalkan sekitar sekian tahun lagi, ada di antara mereka yang bisa memenangi Nobel Fisika.
Nah, berbicara soal belajar membaca, menulis, dan menghitung, rasanya kita para orang tua perlu mempelajarinya lagi. Artinya, kita perlu mengkaji lagi ABC-nya persoalan: hukum, keadilan, hak asasi, demokrasi, kepantasan, dan etika. Misalnya, bolehkah kita sebagai hamba wet melakukan kekerasan terhadap warga yang menentang suatu keputusan pemda. Bolehkah kita sebagai hamba wet menyetop kendaraan yang melaju di jalan bebas hambatan dengan alasan apa pun. Bolehkah kita sebagai hamba wet menutup paksa sebuah sekolah dengan alasan tukar guling sudah berlangsung meskipun sebenarnya masih dalam sengketa. Ayolah kita-- orang-orang tua --belajar lagi. Belajar apa saja.