Yayasan Dian Didaktika
  • Home
  • KB-TK
  • SD
  • SMP
  • SMA
  • PSB

 

WAKTU
ADALAH KESEMPATAN

 

Dalam hidup dan kehidupan manusia, waktu memiliki arti khusus bagi manusia. Hal ini berkaitan dengan ciri yang melekat pada waktu antara lain:
Pertama, bahwa waktu selalu berjalan, dan tidak pernah berhenti, sebagaimana bumi dan bulan yang selalu berputar.
Kedua, bahwa waktu yang tersedia bagi tiap orang itu terbatas, satu hari satu malam adalah 24 jam, tidak lebih.

Dalam rangka hidup dan kehidupan manusia waktu adalah kesempatan, maka kalau waktu yang tersedia itu tidak dimanfaatkan, maka kesempatan itu akan hilang, dan manusia akan rugi. Oleh karena itu tepatlah firman Allah yang mengingatkan kita orang-orang beriman, akan pentingnya waktu, dalam surat Al Ashr (103) : 1 – 3:

”Demi masa (waktu), sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Mengapa manusia umumnya dalam kerugian? Karena banyak manusia yang menyia-nyiakan waktu, tidak memanfaatkan waktu yang tersedia dengan baik, tidak menggunakan kesempatan yang tersedia untuk berbuat kebaikan.

Orang yang menyia-nyiakan waktu memang dapat berkata bahwa “hari esok masih ada” dia lupa bahwa dengan mengharapkan datangnya hari esok, dia telah kehilangan hari ini.

Dalam kaitan dengan pemanfaatan waktu ini Rasulullah saw mengingatkan kita melalui sabdanya sebagai berikut:
Wahai Abu Dzar! Ada dua kenikmatan yang acapkali membuat banyak manusia lengah, yaitu kesehatan dan waktu senggang. Oleh karena itu gunakanlah 5 hal sebelum datang 5 hal, yaitu:

  1. Masa mudamu sebelum datang masa tuamu

Masa muda adalah masa dimana kekuatan fisik dan mental masih prima, masa yang produktif, masa itu agar dimanfaatkan sebaik-baiknya, untuk belajar, beribadah, berbuat baik, dan berkarya. Karena ketika masa tua datang, tenaga dan fikiran telah berkurang, tidak banyak yang dapat diperbuat dan justru pelayanan yang diperlukan bagi dirinya.

  1. Sehatmu sebelum datang sakitmu

Kesehatan adalah suatu kenikmatan, dengan kesehatan orang dapat berbuat banyak, dapat beribadah dengan sempurna, dapat berbuat kebaikan untuk orang lain. Apabila sakit datang, maka tidak ada yang bisa diperkuat, justru pertolongan dari orang lain yang diperlukan bagi dirinya.

  1. Kayamu sebelum datang miskinmu

Ketika kekayaan berada pada seseorang, maka hal itu berarti kesempatan yang lebih luas untuk beramal dengan hartnya. Oleh karena itu perbanyaklah amal kebaikan. Sebab ketika seseorang berada dalam kemiskinan, tidak banyak amal yang dapat diperbuat, bahkan mungkin ia memerlukan pertolongan orang lain.

  1. Waktu senggangmu sebelum datang sibukmu

Ketika ada waktu senggang, ada kesempatan untuk banyak beribadah dan berbuat baik, maka gunakanlah kesempatan itu sebaik-baiknya, sebab kalau datang kesibukan kerja dan kesibukan yang lain, maka kesempatan untuk beribadah pun kadang-kadang sukar didapat.

  1. Hidupmu sebelum datang matimu.

Ketika kita masih hidup, maka terbuka kesempatan kita untuk berbuat baik dan beramal, baik untuk dunia kita, maupun untuk akhirat kita. Tetapi ketika ajal telah menjemput kita, maka akan putuslah segala amal yang bisa kita perbuat.

Peringatan dari Rasulullah itu mudah-mudahan dapat mengingatkan kita untuk tidak pernah menunda untuk berbuat kebaikan.

 

 

Rasulullah s.a.w.
dan Pendidikan Anak
oleh H. Hendroko, M.Sc.

 

Dalam mendidik anak , khususnya pendidikan anak  usia dini, kita mengenal ungkapan   “ Belajar sambil bermain  atau Bermain sambil belajar ‘. Kedua ungkapan itu memiliki arti  dan isi yang serupa.  Ungkapan yang sangat populer ini  rupanya bukan  merupakan hal yang baru dalam  khazanah  pendidikan Islam.  Sebab Rasulullah s.a.w sendiri telah  memberikan  contoh dan  tauladan mengenai hal itu kepada kita sejak 14 abad yang silam.

Diantara contoh dan tauladan Rasulullah yang berkaitan dengan pendidikan anak, antara
lain  adalah  :

Rasulullah menganjurkan  agar orangtua bermain dengan anak – anaknya. Hal itu ditegaskan dalam sebuah sabdanya  : “ Siapa yang memiliki anak hendaklah  ia bermain bersamanya “.   Dalam kesempatan yang lain Rasulullah   menekankan pentingnya bermain bersama anak -anak  tersebut dalam  Sabdanya ; “  Siapa yang menggembirakan hati anaknya , maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau untuk menyenangkan hatinya, maka  ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah.”

Dalam sabda Rasul tersebut, jelas kepada kita bahwa  bermain dan menggembirakan hati anak  merupakan amal ibadah.

Pada kesempatan yang lain kita juga dapat menemukan bagaimana perhatian  Rasulullah
terhadap anak – anak. Dalam sebuah riwayat Ummu  Al – Fadhl  berceritera :
“ Suatu ketika aku menimang – nimang seorang bayi. Rasulullah saw  kemudian               mengambil bayi itu dan menggendongnya. Tiba – tiba  sang bayi pipis dan membasahi pakaian Rasul. Melihat hal itu segera saja  aku merenggut  dengan keras bayi itu dari gendongan Rasul.  Maka  Rasulullah saw menegurku  sebagai berikut :   Air dapat membersihkan pakaianku. Tetapi  apa yang dapat menjernih-  kan perasaan sang bayi  yang dikeruhkan oleh sikapmu yang keras itu ? “.

Dalam peristiwa yang lain, ketika  Rasulullah  sedang sholat dhuhur berjamaah, tiba- tiba beliau mempercepat  dua rakaat terakhir dari sholatnya. Hal itu tentu saja membuat para sahabat  yang menyaksikan terheran – heran.  Maka setelah sholat selesai salah seorang sahabat bertanya. ; “  Apakah yang terjadi dengan sholat kita ya Rasul  ?. Rasul : Memangnya ada apa ?   Sahabat :  Dua rakaat terakhir singkat sekali  ?
Rasul :  Apakah kalian tidak mendengar tangisan anak – anak  ?

Dalam peristiwa yang lain lagi, Rasulullah saw  dalam sholatnya   memperpanjang sujudnya. Setelah sholat selesai, salah seorang sahabat bertanya  kepada Rasul :  Kali ini sujud Anda  panjang sekali, tidak seperti biasanya, apakah Anda  menerima wahyu  ya  Rasulullah  ?   Rasul menjawab :  Tidak,  hanya saja putraku menunggangi punggungku. Aku enggan bangun ( dari sujud ) sebelum  ia puas.

 Dengan contoh – contoh  tersebut  menjadi jelas bagi kita,  betapa cinta dan kasih sayang dan perhatian Rasulullah saw terhadap anak – anak. . Peristiwa – peristiwa tersebut juga   merupakan contoh  tauladan  bagaimana kita  bersikap dalam mendidik  anak.         

                                                                                                     
Billahi taufiq wal hidayah.

 

 

 

Menu Utama

  • Sejarah Yayasan
  • Visi Misi
  • Artikel
  • Karir
  • Agenda Acara
  • Lokasi

 

Copyright 2010. Yayasan Dian Didaktika

Design by Shoni Hamdani